Rabu, 30 September 2015



Workshop Kegawatdaruratan “Spinal Cord Injury”

     Sabtu, 19 September RSUP Fatmawati telah mengadakan Acara Workshop Kegawatdaruratan “Spinal Cord Injury“ di Ruang Rapat Soejoto, Gedung Induk lantai 3  yang dibuka oleh Kepala Bagian Pendidikan & Pelatihan, Dr. Dewi Lestarini, Sp.KK, MARS dengan narasumber, antara lain Dr. Ugi Sugiri, Sp.EM, Dr. Fachrizal, Sp.OT, Dr. Indriati MS Tobing, Sp.KFR (K), Dr. Arfan Mapalilu, Sp.S, Dr. Utami, Sp.Rad, Ns. Ida Djubaedah, SKep, Ns. Sukron, SKep, Ns. Burhandiah, SKep yang dihadiri oleh peserta Internal 56 orang dan peserta External 9 orang, yaitu dari RS. Siaga Raya, RS. Puri Cinere dan RSUD Bekasi. Adapun materi yang diberikan dalam acara workshop tersebut, antara lain :
1. “Red Flag” nyeri punggung dan “Pre Hospital Management” pada kasus diduga cedera medulla spinalis. 
2. Fraktur vertebra dan kondisi muskuloskeletal yang berisiko terjadi Spinal Cord Injury.
3. Dampak Spinal Cord Injury pada sistim organ tubuh. 
4. Penatalaksanaan Spinal Cord Injury dari sisi Neurologi. 
5. Pemeriksaan Penunjang Diagnosis Spinal Cord Injury. 
6. Rehabilitasi Spinal Cord Injury Fase Akut. 
7. Asuhan Keperawatan pada Spinal Cord Injury. 
8. Asuhan keperawatan pada Neurogenic Bladder. 
9. Asuhan Keperawatan pada Neurogenic Bowel.












Selasa, 29 September 2015

JANTUNG KORONER

Apa yang dimaksud dengan Penyakit Jantung Koroner adalah
Penyumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah koroner akibat kerusakan lapisan dinding pembuluh yang diikuti oleh penebalan dan kekakuan pembuluh tersebut (aterosklerosis) 


Penyebab penyakit jantung koroner

Adanya penyempitan dan penyumbatan pembuluh akut coronary  
karena penumpukan zat-zat lemak (kolesterol,trigliserida).

Faktor resiko yang tidak dapat dirubah (dimodifikasi):
1. Peningkatan usia
2. Jenis kelamin
3. Ras 

Faktor resiko yang dapat dirubah (dimodifikasi/diatasi):
1. Kolesterol
2. Tekanan darah tinggi
3. Merokok
4. Gula darah tinggi
5. Obesitas
6. Stress
7. Penggunaan kontrasepsi oral
8. Kepribadian
9. Narkotika 


Tanda dan gejala

Nyeri dada disebelah kiri
Nyeri menjalar kelengan dan              
kepunggung,rahang,leher atau lengan kanan.
Nyeri seperti tertekan benda berat/diperas/terasa panas dan kadang hanya tidak enak didada karena tidak dapat menjelaskan sakit dada tersebeut dengan baik.
Nyeri timbul saat aktifitas.
Terdapat keluhan sesak nafas,lelah,kadang sakit dada disertai keringat dingin.


Serangan jantung sering kali terjadi dipengaruhi oleh beberapa keadaan : 
a. Aktivitas/latihan fisik yg berlebihan (tak terkondisikan)
b. Stress emosi dan terkejut 
c. Udara dingin, keadaan ini ada hubungan dengan peningkatan aktivitas simpatis sehingga tekanan Darah, frekuensi debar jantung dan kontraktilitas Jantung meningkat.

Efek penyakit jantung koroner
Kehilangan oksigen nutrient ke jantung karena aliran darah kejantung berkurang.
Komplikasi
1. Kematian.
2. Aritmia

Cara mencegah penyakit jantung koroner
Mengkonsumsi banyak sayur-syuran dan buah-buahan.
Lakukan olah raga.
Hindari merokok.
Hindari jeroan,emping,nangka,garam,kacang,kubis dan lemak.





Senin, 07 September 2015


   
    Pada tanggal 4 September 2015 RSUP Fatmawati memperingati Hari Pelanggan Nasional,dengan  Tema “Senyum Pelanggan Adalah Senyum Kami”.
 Dalam rangka memperingati Hari Pelanggan Nasional ini, RSUP Fatmawati mengadakan kegiatan peduli pelanggan dengan memberikan setangkai bunga mawar kepada para pasien sebagai bentuk ucapan terima kasih atas kepercayaannya telah menjadi Pelanggan RSUP Fatmawati. Pemberian setangkai bunga mawar langsung diberikan oleh para Direksi sebagai bentuk rasa ingin menciptakan situasi yang nyaman kepada pelanggan yang sedang menunggu pelayanan dari RSUP Fatmawati serta bentuk kepedulian yang tinggi untuk para pelanggan.Adapun lokasi pemberian bunga mawar antara lain Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rehab Medik, Instalasi Anggrek & Griya Husada, Instalasi Bougenville dan Instalasi Patologi Klinik.

   











Rabu, 02 September 2015


KEGIATAN PKRS EKSTERNAL

     Kegiatan PKRS merupakan salah satu upaya RSUP Fatmawati untuk meningkatkan kemampuan pasien,klien dan kelompok-kelompok masyarakat agar pasien dapat mandiri dalam meningkatkan kesehatan,mencegah masalah-masalah kesehatan dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat.Kegiatan ini dilakukan baik dilingkungan internal RSUP Fatmawati maupun lingkungan eksternal  RSUP Fatmawati.
    RSUP Fatmawati mengadakan kegiatan PKRS eksternal,yaitu disekolah-sekolah,diantaranya SMP Negeri 68 Cipete Jakarta Selatan,SMP Negeri 161 Tanah Kusir Jakarta Selatan dan SMP Negeri 37 Jakarta Selatan dengan topic mengenai “kekerasan pada Anak dan Remaja”yang sekaligus juga memperkenalkan dan memberikan informasi bahwa RSUP Fatmawati memepunyai pelayanan Klinik Kesehatan Remaja.Kegiatan ini dibuka oleh Dr.Shirley Anggraini T,SpOG,MKES selaku Ketua Panitia dan kepala sekolah masing-masing SMP Negeri dengan narasumber yaitu Tim Kesehatan Remaja (Dr.Bina Akura SpA dan Dr.Maryatul C,SpKJ)Dr.Andriani,Spf,Nurlaksmi Handayani,MPsi dan didampingi oleh Bidang Pelayanan Medik dan Instalasi Promosi Kesehatan dan Hukum.







Jumat, 28 Agustus 2015



SEMINAR KESEHATAN ANAK DAN REMAJA

     Pada hari Kamis,27 Agustus 2015 RSUP Fatmawati telah mengadakan Seminar Kesehatan Anak dan Remaja dengan Tema " Mengenali Problema Kesehatan Remaja Terkini "  di Ruang Rapat Soejoto, Gedung Induk lantai 3  yang dibuka oleh Direktur Medik dan Keperawatan, Dr. Lia G. Partakusuma, SpPK (K), MM, MARS dan Ketua Panitia Dr.Nadia,SpA, dengan narasumber Dr.deddy Rahmat,SpA,Dr.Fara Vitantri DC,Sp.OG(K),DR.Nugroho Setiawan,Sp.And,Nurlaksmi Handayani,MPsi yang dihadiri oleh 165 peserta yang terdiri dari Para Dokter,Bidan,Coas dan para undangan Internal dan Ekternal RSUP Fatmawati.










Kamis, 27 Agustus 2015


Obesitas Pada Remaja

Dewasa ini banyak sekali kita temukan orang-orang dengan berat badan yang berlebihan sehingga kelihatan tidak proporsional dengan tinggi badan mereka.Saat ini di masyarakat, banyak orang yang kurang peduli dengan masalah berat badan, padahal berat badan berlebih bisa mengakibatkan banyak hal yang justru merugikan diri mereka sendiri, termasuk dalam hal kesehatan.
Masalah berat badan ini juga sangat mungkin diderita oleh remaja! Salah satu masalah berat badan adalah obesitas.Obesitas bisa terjadi karena berat badan yang tidak seimbang dengan tinggi badan.Tetapi sebelumnya harus diketahui bahwa tidak semua ketidakseimbangan tersebut langsung kita vonis sebagai obesitas. Oleh karena itu, mari kita kenal lebih jauh apa yang dimaksud dengan obesitas, terutama pada remaja

Pengertian Obesitas
Obesitas dan overweight adalah dua istilah yang sering digunakan untuk menyatakan adanya kelebihan berat badan. Kedua istilah ini sebenarnya mempunyai pengertian yang berbeda. Kata obesitas yang berasal dari bahasa latin mempunyai arti makan berlebihan. Overweight adalah kelebihan berat badan dibandingkan dengan berat badan ideal yang dapat disebabkan oleh penimbunan jaringan lemak atau jaringan non lemak, misalnya pada seseorang atlit binaragawan kelebihan berat badan dapat disebabkan oleh hipertrofi otot.

Tanda dan Gejala Obesitas
Secara klinis obesitas dengan mudah dikenali karena memiliki tanda dan gejala yang khas, antara lain wajah yang membulat, pipi yang tembem, dagu rangkap, leher relative pendek, dada yang membusung dengan payudara yang membesar mengandung jaringan lemak, perut membuncit serta dinding perut yang berlipat-lipat serta kedua tungkai umumnya berbentuk X dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel dan bergesekan yang akibatnya dapat menyebabkan laserasi dan ulserasi yang menimbulkan bau kurang sedap. Pada anak lelaki, penis tampak kecil Karena tersembunyi dalam jaringan lemak suprapubik (buried penis), hal yang seringkali menyebabkan orang tua menjadi sangat khawatir dan segera membawanya ke dokter.
 
Perkembangan Obesitas
Prevalensi obesitas pada anak usia 6-17 tahun di amerika Serikat dalam tiga dekade terakhir meningkat dari 7,6-10,8% menjadi 13-14%. Persentase remaja berusia 12-19 tahun yang obese meningkat dari 5% menjadi 21%.Pada tahun 2012 hampir sepertiga remaja mengalami obesitas. Prevalensi overweight dan obesitas pada anak usia 6-18 tahun di Rusia adalah 6% dan 10%, di China adalah 3,6% dan 3,4%, dan di Ingris adalah 22-31% dan 10-17%, bergantung pada umur dan jenis kelamin. Prevalensi obesitas pada anak-anak sekolah di Singapura meningkat dari 9% menjadi 19%.
            Di Indonesia, prevalensi obesitas pada balita menurut SUSENAS menunjukkan peningkatan baik di perkotaan maupun di pedesaan. Di perkotaan pada tahun 1989 didapatkan 4,6% lelaki dan 5,9% perempuan.Pada tahun 1992 didapatkan 6,3% lelaki dan 8% untuk perempuan.Prevalensi obesitas tahun 1995 di 27 propinsi adalah 4,6%.
            Di DKI Jakarta prevalensi obesitas meningkat dengan bertambahnya umur. Pada umur 6-12 tahunditemukan obesitas sekitar 4%, pada anak remaja 12-18 tahun ditemukan 6,2% dan pada 17-18 tahun 11,4%. Kasus obesitas pada remaja lebih banyak ditemukan pada wanita (10,2%) disbanding lelaki (3,1%).Pada penelitian Mulyadi 1998, prevalensi obesitas anak di sebuah SD Negeri di kawasan Jakarta Pusat sebesar 9,6%. Penelitian lain manunjukkan angka sebesar 27,5%. Data penelitian multisenter tahun 2004 yang dilakukan di 10 kota yaitu Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Semarang, Solo, didapatkan angka sebesar 12%.

Faktor yang Dapat Memengaruhi Terjadinya Obesitas
Faktor-faktor yang diketahui dapat mempengaruhi terjadinya obesitas adalah sebagai berikut:
·         Pola makan. Banyaknya asupan kalori, gula dan lemak yang dimakan oleh remaja seperti makanan siap saji dan gula-gula menjadi salah satu faktor yang berpengaruh pada kenaikan berat badan.
·         Kurangnya olah raga. Kenaikan berat badan juga dipicu dengan kurangnya olah raga karena tidak ada aktivitas yang membakar lemak.
·         Riwayat keluarga. Jika remaja tersebut lahir dari keluarga yang memiliki masalah kelebihan berat badan, kebanyakan remaja tersebut juga memiliki masalah yang sama. Hal ini diperberat dengan ketersediaan makanan kalori tinggi dan aktivitas fisik yang kurang yang biasanya adalah contoh dari keseharian keluarga.
·         Faktor psikologis. Remaja dengan stres tinggi atau masalah yang berkaitan dengan emosi cenderung mendorong mereka untuk makan lebih banyak.
·         Faktor keluarga. Kebiasaan dalam keluarga yang cenderung mengkonsumsi makanan kalori tinggi dan banyak gula cenderung memiliki anak dengan masalah berat badan.

Metode Pengukuran Obesitas Pada Anak
Berdasarkan antropometri umumnya obesitas pada anak ditentukan berdasarkan tiga metode pengukuran sebagai berikut:
1.      Mengukur berat badan dan hasilnya dibandingkan dengan berat badan ideal sesuai tinggi badan (BB/TB). Obesitas pada anak didefinisikan sebagai berat badan menurut tinggi badan diatas persentil 90 atau 120% dibandingkan berat badan ideal. Sedangkan berat badan lebih besar daripada 140% berat badan ideal didefinisikan sebagi superobesitas. Cara ini lebih mencerminkan proporsi atau penampilan tetapi tidak mencerminkan massa lemak tubuh.
2.      World Health Organization (WHO) pada tahun 1977,  The National Institutes of Health (NIH) pada tahun 1998 dan The Expert Committee on clinical Guidelines for overweight in adolescent Preventives Services telah merekomendasikan Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai baku pengukuran obesitas pada anak dan remaja diatas 2 tahun. Pengukuran IMT merupakan petunjuk untuk menentukan kelebihan berat badan berdasarkan indeks Quatelet (berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m2 )> Interpretasi IMT tergantung pada umur adan jenis kelamin anak. Nilai batas IMT untuk kelebihan berat badan pada anak dan remaja adalah persentil ke- 85 dan ke- 95. Nilai IMT lebih atau sama dengan persentil ke-95 merupakan nilai patokan obesitas pada anak dan remaja. Klasifikasi IMT terhadap umur adalah < persentil 5 adalah berat badan kurang, ≥ persentil ke 85 adalah overweight dan ≥ persentil ke-95 adalah gemuk atau obesitas.
3.      Pengukuran langsung lemak subkutan dengan mengukur tebal lipatan kulit (TLK). Terdapat empat macam cara pengukuran TLK yang ideal untuk mendapatkan proporsi lemak tubuh yaitu Y}TLK biseps, triseps, subscapular dan suprailiaka. Namun dikatakan bila TLk triseps di atas persentil ke 85 merupakan indicator adanya obesitas.

Efek Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Obesitas pada masa anak-anak mempunyai efek jangka pendek dan efek jangka panjang.
·         Efek jangka pendek yaitu pada remaja obese memiliki risiko penyakit kardiovaskuler seperti kolesterol atau tekanan darah tinggi. Remaja obese lebih mungkin memiliki kondisi prediabetes. Selain itu mempunyai risiko masalah pada tulang dan persendian, sleep apnea, masalah-masalah psikososial.
·         Efek jangka panjang yaitu remaja obese memiliki kecenderungan obes pada masa dewasa dan memiliki risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, stroke, osteoarthritis.

Diet Pada Remaja
Mengingat anak masih tumbuh dan berkembang  maka prinsip pengaturan diet pada anak gemuk adalah diet seimbang sesuai dengan RDA. Cara yang dilakukan adalah dengan intervensi diet.Pada anak sulit melakukan hal ini, karena anak tidak mau mengerti mengapa makanannya harus dikurangi atau dibatasi.Pengaturan makan yang baik diperlukan untuk mengurangi kendala tersebut dan peran seorang ahli gizi sangat penting.

Secara garis besar prinsi pengaturan diet adalah:
Ø  Menghindari obesitas dan mempertahankan berat badan dan
pertumbuhan normal.
Ø  Masukan makanan dengan karbohidrat rendah (48% energy
total)
Ø  Menurunkan masukan lemak dengan lemak tak jenuh,
kolesterol tidak lebih dari 300 mg/hari.
Ø  Meningkatkan makanan tinggi serat
Ø  Makanan dengan kandungan garam cukup 5 gram/hari.
Ø  Meningkatkan masukan besi, kalsium dan fluor.

Pengaturan aktivitas fisik dengan melakukan latihan dan meningkatkan aktivitas harian.Aktivitas fisik mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap penggunaan energy.Dikatakan juga bahwa peningkatan aktivitas fisik pada anak gemuk bisa menurunkan nafsu makan dan meningkatkan laju metabolisme. Latihan aerobic yang teratur yang dikombinasikan dengan pengurangan energy akan menghasilkan penurunan berat badan yang lebih besar dibandingkan dengan hanya diet saja.

Pengubahan perilaku atau modifikasi perilaku dengan melakukan:
Ø  Pengawasan diri terhadap berat badan, masukan makanan dan aktivitas fisik serta mencatat perkembangannya
Ø  Kontrol terhadap rangsangan dan stimulus
Ø  Mengubah perilaku makan, belajar mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi
Ø  Orang tua dianjurkan memberikan dorongan, pujian terhadap keberhasilan atau perilaku sehat yang diperlihatkan anak.
Ø  Pengendalian diri misalnya dengan memilih makanan yang berkalori rendah apabila menghadapi bepergian atau pertemuan sosial.

Senin, 24 Agustus 2015


Mengatasi DEPRESI


Depresi sangat berbahaya karena tidak hanya mempengaruhi EMOSI saja,tetapi juga mengubah JALAN PIKIRAN,PERILAKU,serta FISIK kita.

GEJALA DEPRESI
a.       Lesu ,lelah,hilang semangat
b.      Mudah marah
c.       Kurang percaya diri
d.      Menyalahkan diri sendiri
e.      Merasa tidak berharga
f.        Sulit konsentrasi
g.       Ragu-ragu
h.      Pandangan suram tentang masa depan

AKIBAT DEPRESI
a.       Putus asa tidur terganggu
b.      Nafsu makan berkurang
c.       Terlintas ide untuk bunuh diri atau membahayakan diri sendiri
d.      Menurunnya gairah seksual
e.      Enggan bersosialisasi

APA YANG MEMBUAT KITA DEPRESI
·         Pemikiran yang kaku,yaitu hanya tentang ‘sempurna’atau ‘gagal sama sekali’
·         Satu pengalaman buruk membuat kita berpikir bahwa seterusnya kita akan mengalami hal buruk.
·         Terpaku pada hal-hal buruk sehingga lupa pada hal baik yang kita miliki.
·         Melebih-lebihkan masalah hingga rasanya kita tidak mampu mengatasinya.
·         Pandangan buruk pada diri sendiri,misalnya beroikir “Aku bodoh”.”Aku yang salah”.dll.
·         Terlalu mendengarkan pandangan buruk orang lain yang belum tentu benar.

Bagaimana mengatasi depresi
         a.       Ubah pemikiran buruk,ganti dengan pikiran baik
b.      Mengkarabkan diri dengan orang-orang yang bias mendukung,misalnya keluarga atau teman
c.       Pola Hidup Sehat (kecukupan gizi,kebersihan diri &lingkungan,dan cukup istirahat)
d.      Mengenali penyebab DEPRESI,usahakan Rileks
e.      Mengembangkan Hobi,keterampilan,atau Aktivitas yang menyenangkan
f.        Bagi permasalahan Anda dengan Orang Terdekat atau Psikolog

 JANGAN
MENYIMPAN MASALAH
SENDIRI
MULAILAH JADIKAN Psikolog
Teman berbagi Anda