DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 70 TAHUN
17 AGUSTUS 1945 - 17 AGUSTUS 2015
Minggu, 16 Agustus 2015
Senin, 10 Agustus 2015
IMUNISASI PADA REMAJA
Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak menuju dewasa.
Definisi remaja menurut Kementerian Kesehatan RI adalah semua laki-laki dan perempuan
yang berumur 10-19 tahun dan belum menikah. Usia sekolah dan remaja merupakan kurun
waktu dimana dapat terjadi paparan lingkungan yang luas dan beraneka ragam. Pada
usia remaja, anak akan memiliki banyak kegiatan yang membuatnya rentan terhadap
penyakit.
Manfaat
Imunisasi Pada Remaja
Imunisasi
pada remaja merupakan hal yang penting dalam upaya pemeliharaan kekebalan tubuh
terhadap berbagai macam penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus
maupun parasit dalam kehidupan menuju dewasa. Imunisasi pada remaja ini diperlukan
mengingat imunitas yang mereka peroleh sebelumnya dari pemberian imunisasi lengkap
sewaktu masa bayi dan anak-anak tidak dapat bertahan seumur hidup (misalnya imunitas
terhadap pertussis hanya bertahan selama 5-10 tahun setelah pemberian dosis imunisasi
terakhir). Selain itu, banyak morbiditas penyakit serius yang dapat terjadi pada
usia remaja.
Imunisasi merupakan salah satu tindakan yang
secara aktif untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Sudah memberikan
imunisasi secara lengkap saat bayi dan balita, bukan berarti saat remaja anak tidak
membutuhkan imunisasi. Sebab imunisasi pada remaja diperlukan karena kekebalan
yang diperoleh sebelumnya, tidak semuanya dapat bertahan seumur hidup (misalnya
kekebalan terhadap penyakit Pertusis hanya bertahan sekitar 5-10 tahun setelah dosis
imunisasi terakhir).
Imunisasi Pada Remaja
Imunisasi pada remaja umumnya berupa imunisasi ulang atau
booster dari hamper semua imunisasi dasar pada umur lebih dini. Di Indonesia
sendiri Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan jadwal imunisasi tahun
2014 yang direkomendasian di Indonesia. Dari jadwal imunisasi 2014 antara lain
:
1. Imunisasi
Difteri, Pertusis, Tetanus (DPT)
Untuk
anak umur lebih dari 7 tahun, imunisasi DPT ini diberikan sebagai dalam bentuk
imunisasi Td dan di-booster setiap 10 tahun. IDAI merekomendasikan
pemberian imunisasi Td ke 6 pada umur 10-12 tahun dan Td ke 7 pada umur 18
tahun. Vaksin mengandung toksoid difteri
sebanyak 2 Lf dan toksoid tetanus sebanyak 7,5 Lf dalam setiap 0,5 ml vaksin. Imunisasi Td memberikan kekebalan
lanjutan terhadap tetanus dan difteria, serta menurunkan morbiditas dan
mortalitas penyakit difteria dan tetanus pada remaja. IDAI merekomendasikan 2x pe mberian
pada masa remaja, yakni 1x pada umur 10-12 tahun dan 1x pada umur 18 tahun.
Suntikan imunisasi diberikan dengan dosis 0,5 ml di otot lengan bahu. Walau
jarang, ada beberapa efek samping yang mungkin muncul antara lain nyeri di
tempat suntikan, kemerahan, bengkak, dan demam.
2. Imunisasi
Influensa
IDAI
menyarankan pemberian imunisasi influenza ulang setiap tahunnya (1x/tahun). Terdapat dua jenis vaksin influenza,
yakni IIV (Inactivated
Influenza Vaccine)
yang diberikan secara suntikan dan LAIV (Live, Attenuated Influenza Vaccine) yang berupa spray hidung. Imunisasi pertama kalinya diberikan 2x,
selanjutnya dilakukan 1x setiap tahunnya sejak umur 6 bulan sampai umur 18
tahun pada semua individu tanpa memandang ada tidaknya faktor risiko. Vaksin
diberikan melalui suntikan dengan dosis 0,5 ml untuk anak diatas 3 tahun atau
0,25 ml untuk bayi dibawah 3 tahun secara IM di M.Deltoideus. Efek samping yang mungkin berupa nyeri,
kemerahan dan bengkak di tempat suntikan, demam dan nyeri otot, walaupun hal
ini sangat jarang terjadi.
Imunisasi
Hepatitis A dapat diberikan sejak umur 2 tahun sampai umur 18 tahun, sebanyak
2x pemberian dengan interval 6-12 bulan. Lama proteksi antibodi terhadap virus
Hepatitis A diperkirakan menetap selama lebih dari 20 tahun.
Proteksi jangka panjang dapat terjadi
akibat antibodi protektif yang menetap atau akibat infeksi alamiah. Imunisasi diberikan melalui suntikan
dengan dosis 0,5 ml secara IM. Efek samping yang mungkin muncul antara
lain nyeri, kemerahan dan bengkak di tempat suntikan
4. Imunisasi
Varisela
IDAI
merekomendasikan pemberian imunisasi Varisela sebanyak 1x saja.Pemberian dapat
dilakukakan setelah umur 12 bulan dan terbaik pada umur sebelum masuk sekolah
dasar.Bila diberikan pada umur lebih dari 12 tahun, diperlukan 2 dosis dengan
interval minimal 4 minggu. Vaksin mengandung virus Varisela yang
dilemahkan (live-attenuated) sehingga harus diberikan dalam kondisi
sehat.Serokonversi didapati pada 97% individu yang divaksinasi.Untuk remaja
diberikan 2 dosis vaksin jika belum pernah diimunisasi sebelumnya dengan
interval 4 minggu. Dosis yang diberikan adalah 0,5 ml
dibawah kulit. Efek samping yang mungkin muncul antara lain kemerahan, demam,
nyeri dan pegal di tempat suntikan
5. Imunisasi
HPV
Imunisasi
HPV dapat diberikan pada laki-laki dan perempuan mulai umur 10 tahun untuk
mencegah penyakit terkait infeksi HPV. Vaksin HPV berisi protein
rekombinan.Imunisasi HPV mempunyai efikasi 96-100% untuk mencegah kanker leher
rahim yang disebabkan oleh HPV tipe 16/18.1 Terdapat dua jenis vaksin HPV yakni yang
bivalen (diberikan tiga kali dengan interval 0, 1, 6 bulan) dan tetravalent
(diberikan tiga kali dengan interval 0, 2, 6 bulan). Vaksin bivalen hanya dapat diberikan
pada perempuan, sedangkan vaksin tetravalent dapat diberikan pada perempuan
maupun laki-laki. Imunisasi diberikan dengan dosis 0,5 ml
diotot lengan bahu atas. Efek samping yang mungkin muncul antara lain pegal, urtikari, nyeri di tempat suntikan, kemerahan dan bengkak. Merk-merk yang ada di Indonesiaantara
lain Cervarix® yang merupakan vaksin bivalen (tipe 16
dan 18) dan Gardasil® yang merupakan vaksin tetravalent (tipe
6, 11, 16 dan 18)
Kanker
Serviks dapat Disebabkan dari Infeksi Virus HPV
Salah satu kesejahteraan perempuan yang harus disoroti adalah ketika perempuan
menapaki usia produktif dimana ditandai dengan terjadinya menstruasi, hal tersebut
perlu diperhatikan baik dalam segi sosial maupun dalam segi kesehatan khususnya
kesehatan reproduksi. Menstruasi merupakan titik awal dimana permasalahan kesehatan
reproduksi muncul, antara lain keputihan, bau tidak sedap pada vagina, hingga waktu
menstruasi yang
tidak teratur.
Keputihan merupakan keluarnya cairan dari vagina selain darah haid,
cairan tersebut bisa menjadi cairan yang normal dan tidak normal. Cairan lendir
yang tidak norrnal tersebut merupakan salah satu tanda atau gejala adanya kelainan
pada organ reproduksi wanita. Kelainan tersebut dapat berupa infeksi, polip leher
rahim, keganasan (tumor dan kanker) serta adanya benda asing. Dalam hal keganasan
tersebut, keputihan merupakan salah satu gejala awal dari kanker serviks.
Kanker serviks (kanker leher
rahim) merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim atau serviks (bagian
terendah dari rahim) yang menempel pada puncak vagina. Menurut Badan Kesehatan
Dunia (WHO) menyatakan, di Negara berkembang saat ini penyakit kanker serviks menempati
peringkat teratas diantara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada
perempuan di dunia yang menyerang usia produktif.
Penyebab utama kanker leher rahim adalah
infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi virus HPV dapat menyerang siapa saja,
mulai dari perempuan berusia 20 tahun sampai
perempuan yang tidak lagi dalam usia produktif.
Angka kejadian kanker
leher rahim menduduki urutan ke-2 diantara kanker pada perempuan setelah kanker
payudara. Setiap tahun diperkirakan ada 500.000 perempuan ditemukan menderita kanker
leher rahim dan 50% akan meninggal. Di tingkat dunia diperkirakan setiap dua menit
ada seorang perempuan meninggal. Di Indonesia berdasar data patologi kanker leher
rahim menempati urutan pertama dari kanker-kanker
yang terdapat baik pada perempuan, maupun gabungan perempuan dan laki-laki. Diperkirakan
setiap jam atau dua jam ada seorang perempuan meninggal akibat kanker.
Diperkirakan di Jakarta satu orang perempuan meninggal akibat kanker serviks setiap
satu atau dua hari.
Faktor Resiko
·
Infeksi HPV berkaitan dengan 95% dari terjadinya
kanker serviks
·
Perempuan yang merokok mempunyai resiko dua
kali lebih tinggi untuk menderita kanker serviks dari pada perempuan yang tidak
merokok
·
Perempuan dengan mitra seksual multiple
·
Tingkat sosial ekonomi rendah mempunyai
resiko lebih tinggi untuk menderita kanker serviks lebih tinggi untuk menderita
kanker serviks daripada tingkat sosial ekonomi menengah atau tinggi
Mencegah
Munculnya Kanker Serviks
Selain pap smear,
langkah mencegah munculnya k anker serviks pada para wanita adalah dengan vaksinasi.
Kini upaya untuk memerangi permasalahan kanker serviks semakin terbantu dengan hadirnya
vaksin Human Papiloma Virus (HPV) yang dikenalkan ketengah masyarakat.
Perjalanan
penyakit infeksi HPV hingga timbulnya kanker serviks invasive memerlukan waktu
yang sangat panjang, dapat berlangsung 3 sampai 17 tahun kemudian, dan keadaan ini
sebenarnya memberi tantangan untuk melakukan deteksi dini dengan berbagai metode
yang telah dikenal populer.
Vaksin ini bersifat pencegahan, bukan untuk pengobatan. Bila semua wanita
dapat divaksinasi, maka ada potensi bahwa jumlah kematian akibat kanker serviks
diseluruh dunia dapat turun sebanyak dua pertiganya. Karena vaksin dapat mencegah
kanker serviks, maka vaksinasi dapat mengurangi biaya untuk kesehatan, biposi,
dan tindakan jika seseorang terkena kanker serviks. Jadi pada dasarnya vaksin
HPV ini bermanfaat. Vaksin HPV terbukti efektif hanya jika diberikan pada orang
yang belum pernah terkena infeksi HPV, karena itu dianjurkan pada saat seseorang
belum aktif secara seksual.
Selain itu,
pada saat vaksinisasi juga dilakukan skrining dan papsmeer yang merupakan
prosedur normal saat pemberian vaksinisasi. Sehingga bisa mendeteksi atau mengetahui
keadaan dan kelainan-kelainan yang mungkin ada pada tubuh sejak dini. Ini juga merupakan
salah satu keuntungan yang bisa menjadi alasan kenapa harus melakukan vaksin HPV.
Kamis, 06 Agustus 2015
KENALI HEPATITIS B
APA ITU HEPATITIS ?
Hepatitis adalah proses
peradangan pada hati.Hepatitis dapat disebabkan oleh
infeksi,obat-obatan,toksin,gangguan metabolic maupun kelainan autoimun.penyebab
utama hepatitis adalah infeksi virus.
APA ITU HEPATITIS VIRUS ?
Dengan kemajuan dibidang biologi-molekuler telah
dapat diidentifikasi sedikitnya 6 virus penyebab utama hepatitis,yaitu
A,B,C,D,E dan G.
Anak yang menderita hepatitis A
tidak akan berubah menjadi hepatitis B,C,D dan selanjutnya,karena masing-masing
virus sangat berbeda dan tidak dapat berubah menjadi virus lain.
APA ITU HEPATITIS B
HEPATITIS B adalah peradangan pada hati yang disebabkan
oleh infeksi virus hepatitis B.
Hepatitis B paling ditakutkan
karena dapat menjadi kronik.Hepatitis virus B kronik merupakan infeksi virus
hepatitis B yang menetap paling sedikit
selama 6 bulan.
Penderita hepatitis B kronik
merupakan sumber penularan utam.Resiko menjadi kronik sangat tinggi (90 %) bila
infeksi tersenut didapat saat bayi.
Penularan pada bayi didapat dari
ibu pembawa hepatitis B kronik,yang disebut sebagai transmisi vertical.Transmisi
vertical dapat terjadi saat intrauterine,intrapartum atau setelah lahir tetapi
sebagian besar transmisi vertical tersebut terjadi intrapartum.
APA GEJALA HEPATITIS B KRONIK ?
70% anak yang terinfeksi hepatitis B akut tidak ada
gejala.
Anak dapat terjangkit tetapi kita
tidak mengetahuinya.
Hepatitis B kronik pada anak
umumnya tidak menimbulkan gejala,kadang hanya timbul mual atau lesu.
SIAPA YANG BERESIKO TERKENA
HEPATITIS B ?
- Transfusi
- Cuci darah
- Tertusuk jarum suntik
- Petugas medis
- Petugas laboratorium
- Alat cukur bersama
- Akupuntur
- Tindik
- Narkoba suntik
- Pemadam kebakaran
- Pasangan penderita hepatitis B
- Tato
BAGAIMANA
MENCEGAH HEPATITIS B ?
Ø
Uji tapis donor darah terhadap virus hepatitis B
Ø
Sterilisasi alat operasi,alat suntik,peralatan
gigi
Ø
Penggunaan sarung tangan oleh tenaga medis
Ø
Mencegah kemungkinan terjadinya luka kecil yang
dapat menjadi tempat masuknya virus,seperti pemakaian sikat gigi,sisir,alat
pencukur pribadi.
CARA TERBAIK MENCEGAH HEPATITIS B
·
Memotong transmisi vertical
·
Memberikan vaksinasi hepatitis B pada semua bayi
·
3 kali seumur hidup
·
Dosis pertama diberikan sebelum usia 12 jam
·
Kedua pada usia 1 bulan,dosis ketiga pada usia 6
bulan.
Rabu, 29 Juli 2015
HALAL BIHALAL RSUP FATMAWATI
Dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1436H RSUP Fatmawati mengadakan acara Silaturahim Idul Fitri / Halal Bihalal keluarga besar RSUP Fatmawati pada hari Selasa,28 Juli 2015 bertempat diruang rapat Soejoto lantai 3 gedung induk,dimulai pada pukul 13.00 WIB,dengan penceramah Ust.Kirman Wibowo dan dihadiri oleh seluruh Jajaran Direksi,Para tamu undangan dan seluruh karyawan RSUP Fatmawati

Selasa, 28 Juli 2015
Jumat, 24 Juli 2015
PUBERTAS
HARI ANAK NASIONAL 23 JULI 2015 TEMA "ANAK INDONESIA SEHAT,KREATIF DAN BERAKHLAK MULIA"
PUBERTAS
;
Peralihan Anak-anak Menjadi Dewasa
Pubertas merupakan hal yang normal dialami oleh remaja. Pubertas
merupakan tahap penting dalam proses tumbuh kembang anak. Perubahan fisik yang
mencolok terjadi selama proses ini, kemudian diikuti perkembangan ciri-ciri
seksual sekunder, perubahan komposisi tubuh serta perubahan maturasi tulang
yang sepat, diakhiri dengan menutupnya epifisis serta terbentuknya perawakan
akhir dewasa. Perubahan fisik selama pubertas terjadi akibat perubahan hormonal
yang berlangsung saat pubertas. Pubertas merupakan proses biologis kompleks
yang terjadi pada peralihan masa anak-anak dan dewasa yang berlangsung dalam
beberapa tahap dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti genetik, nutrisi,
lingkungan dan sosial ekonomi.
Gejala
pubertas dapat ditinjau secara fisik dan psikis (kejiwaan/emosional)
1.
Pubertas Secara Fisik
Pubertas secara
fisik dapat dilihat dari perubahan tubuh, meliputi perubahan tanda kelamin
primer dan sekunder. Perkembangan tubuh remaja laki-laki dan perempuan berbeda
karena pengaruh hormone yang dihasilkan. Laki-laki menghasilkan hormon
androgen, sedangkan perempuan menghasilkan hormone estrogen.
Ciri-ciri
pubertas secara fisik dapat dilihat sebagai berikut;
Laki-laki
|
Perempuan
|
a. Ciri kelamin primer
-
Organ
kelamin telah mampu menghasilkan sperma di dalam testis.
-
Organ
kelamin mulai berfungsi. Pada remaja laki-laki pertama kali mengalami “mimpi
basah” yang mengeluarkan sperma atau air mani.
b. Ciri kelamin sekunder
-
Mulai
tumbuh jakun
-
Tumbuh
kumis atau jenggot
-
Perubahan
suara menjadi lebih besar dan berat
-
Tumbuh
rambut di dada, kaki, ketiak, dan sekitar organ kelamin
-
Mulai
tampak otot-otot yang berkembang lebih besar dan menonjol
-
Bahu
mulai melebar melebihi bagian pinggul
-
Perubahan
jaringan kulit menjadi lebih kasar dan pori-pori tampak membesar
-
Kadang
diikuti dengan munculnya jerawat di daerah muka
|
a. Ciri kelamin primer
-
Organ
kelamin telah mampu menghasilkan sel telur di dalam indung telur (ovarium).
-
Organ
kelamin mulai berfungsi. Pada perempuan ditandai dengan mengalami menstruasi
pertama kali.
b. Ciri kelamin sekunder
-
Membesarnya
payudara dan puting susu mulai timbul
-
Pinggul
melebar
-
Tumbuh
rambut di ketiak dan sekitar organ kelamin
-
Suara
lebih nyaring
-
Kadang
diikuti munculnya jerawat di daerah muka
|
2.
Pubertas Secara
Psikis
Selain terjadi
perubahan secara fisik, pada masa pubertas juga terjadi perubahan hormonal yang
mempengaruhi kondisi psikologis dan tingkah laku. Adapun ciri pubertas secara
psikis dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Mencari identitas diri
Dalam usaha mencari identitas diri, remaja sering menentang karena dirasa
membelenggu kebebasannya. Meskipun cara berpikirnya belum dewasa namun remaja
tidak mau dikatakan sebagai anak-anak. Remaja sering melakukan hal coba-coba
karena rasa ingin tahu yang besar.
b. Mulai tertarik kepada lawan jenis
Masa remaja adalah masa persiapan menuju dewasa. Wajar bila remaja
mempunyai ketertarikan dengan lawan jenis. Namun demikian pernikahan pada usia
remaja belum diperbolehkan karena secara mental belum siap. Kehamilan pada usia
remaja dapat berpengaruh negative baik pada diri remaja maupun bayi yang ada di
kandungannya.
Untuk mengantisipasi perkembangan
dan pendewasaan dirinya, para remaja seharusnya menerima informasi yang
lengkap, tepat dan tidak menyesatkan sesuai dengan umur dan tumbuh kembangnya.
Remaja perlu mengetahui dengan benar dan dapat memanfaatkan informasi tadi
untuk meningkatkan status kesehatannya dari keluarga, guru bahkan teman sebaya.
Biasanya pada usia remaja akan
membentuk kelompok bersama teman-teman sebaya dan mencari pengalaman-pengalaman
baru bersama-sama. Kumpul bersama teman sebaya merupakan hal yang mengasyikan
karena bisa berbagi rasa “curhat“ , “ ngerumpi “, melakukan tugas / pekerjaan
bersama-sama pokoknya saling membantu. Tapi ingat! teman juga dapat memberi
pengaruh buruk bagi diri remaja.
Ada beberapa perilaku buruk yang
merupakan pengaruh dari teman sebaya, antara lain; ajakan mencoba obat-obatan
terlarang, membaca
buku-buku porno, menonton film/video/VCD porno, mencoba minuman beralkohol, mencuri,
menentang orang tua, mencoba
merokok, dll. Oleh karena itu peran lembaga-lembaga resmi seperti puskesmas,
sekolah, pesantren dan organisasi-organisasi kepemudaan yang ditugasi untuk
menyebarkan pengetahuan harus lebih aktif dalam memberikan bimbingan kepada
para remaja.
Ø Jaga
diri sendiri dengan penuh tanggung jawab untuk masa depanmu
Ø Jangan
rusak kepercayaan orang tua terhadap dirimu
Ø Berani
menyatakan “tidak” terhadap ajakan teman yang akan merugikan dirimu
Ø Hindari
perbuatan-perbuatan yang beresiko untuk kehidupan masa depan, Pilihlah teman
yang berahklak baik
Ø Gunakan
masa remajamu untuk hal-hal yang bermanfaat
Ø Jagalah
kondisi jasmani dan rohan dengan
mengkonsumsi makanan yang bergizi, berolah raga dan mengikuti kegiatan-kegiatan
keagamaan dan kegiatan sosial.
Penulis : dr. Bina
Akura, SpA
Langganan:
Postingan (Atom)










