Selasa, 18 Agustus 2015

Acara Roundtable Discussion 
dengan Puskesmas dan RS sekitar RSUP Fatmawati 

Tanggal 13 Agustus 2015, RSUP Fatmawati telah mengadakan acara roundtable discussion dengan Puskesmas dan RS sekitar RSUP Fatmawati di Ruang Rapat H.E Tardan, Gedung Induk lantai 3 dengan tema “Membangun Jejaring/Networking dengan Puskesmas dan RS Sekitar RSUP Fatmawati tentang Pelayanan Tumbuh Kembang” yang dibuka oleh Direktur Medik dan Keperawatan, Dr. Lia G. Partakusuma, SpPK (K), MM, MARS. Acara ini juga membahas mengenai Klinik Tumbuh Kembang oleh Dr. Purnama Fitri, SpA, Laboratorium dengan LAS oleh Dr. Luciana, SpPK serta dihadiri oleh undangan internal sebanyak 20 orang dan undangan eksternal sebanyak 24 orang yang terdiri dari 4 RS, 1 RSU, 4 RSUK dan 9 Puskemas Kecamatan.
















Gangguan Pertumbuhan Pada Remaja


Remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak dengan dewasa dimana pada masa itu terjadi perubahan biologis, intelektual, psikologi, sosial dan ekonomi. Selama periode ini, individu mengalami kematangan fisik dan seksual maupun peningkatan kemampuan dan pengambilan keputusan.


Remaja dapat dibagi menjadi tiga sub fase yaitu :
1.   Early adolescent (11-14 th)
2.   Middle adolescent (15-17 th)
3.   Late adolescent (18-20 th)
Pada masa remaja terjadi pertumbuhan fisik yang cepat dan proses kematangan seksual. Beberapa kelenjar yang mengatur fungsi seksualitas pada masa ini telah mulai matang dan berfungsi. Disamping itu tanda-tanda seksualitas sekunder juga mulai nampak pada diri remaja.

Hal-Hal yang Memengaruhi Pertumbuhan Remaja
Pertumbuhan anak merupakan proses interaksi berbagai hal, seperti faktor genetik, lingkungan, nutrisi, serta faktor endokrin. Pertumbuhan pada anak terjadi terutama pada lempeng epifisis yang merupakan tempat terjadinya deposisi tulang sehingga terjadi penambahan tinggi badan. Beberapa hormon dan faktor yang terlibat dalam proses pertumbuhan antara lain.
a.       Hormon Tiroid
Hormon tiroid berperan penting dalam maturasi tulang pada masa prenatal dan pasca natal serta proses mielinisasi sistim saraf pusat.  Hormon tiroid mempunyai efek pada sekresi hormone pertumbuhan, mempengaruhi kondrosit secara langsung serta memacu kondrosit. Kekurangan hormone tiroid pada masa anak akan menyebabkan perlambatan pertumbuhan dan retardasi maturasi tulang.
b.      Hormon seks
Hormon steroid seks berperan penting dalam proses diferensiasi seks. Testosteron pada laki-laki dihasilkan oleh sel Leydig. Pada periode pubertas, testosterone berperan dalm proses pacu tumbuh serta menginduksi pertumbuhan seks sekunder. Ovarium menghasilkan estrogen dalam bentuk estradiol. Pada periode pubertas kadar estrogen akan meningkat dan menginduksi tanda-tanda seks sekunder pada wanita. Estrogen juga merangsang terjadinya pacu tumbuh pada wanita.
c.       Hormon pertumbuhan
Hormon pertumbuhan berperan dalam seluruh fase pertumbuhan baik prenatal dan pasca natal. Hormon pertumbuhan ini akan meningkatkan produksi IGF-1 yang terutama dihasilkan oleh hepar dan kemudian akan menstimulasi produksi IGF-1 lokal dari kondrosit. Hormon pertumbuhan ini dikeluarkan secara episodic dan hamper selalu terdapat kadar yang sangat rendah. Setiap hari umumnya terdapat 8 sampai 9 kali peningkatan kadar hormone pertumbuhan selama 1-20 menit. Hormon pertumbuhan ini meningkat pada waktu olah raga dan pada waktu tidur. Pada periode pubertas, sekresi hormone pertumbuhan akan sangat meningkat secara bersamaan dengan peningkatan hormone steroid seks yang akna menyebabkan pacu tumbuh.
d.      Insulin
Hormon insulin ternyata juga berpengaruh pada pertumbuhan pasca natal. Pada anak dengan diabetes mellitus, yang tidak terkontrol terjadi resisitensi relative terhadap hormone pertumbuhan. Gangguan pertumbuhan pada anak diabetes mellitus juga disebabkan oleh penurunan kadar IGF-1.
e.       Nutrisi
Pentingnya peran nutrisi dalam proses kecepatan tumbuh dan tinggi akhir dapat dijelaskan dengan adanya secular trends pasca perang dunia II di Jepang. Tinggi anak laki-laki pada usia 17 tahun meningkat 6,6 cm dan anak perempuan meningkat 3,1 cm pada tahun 1967. Pada tahun 1988 peningkatan menjadi 9,7 cm pada anak laki-laki dan 5,7 cm pada anak perempuan. Secular trends ini disebabkan oleh meningkatnya keadaan sosioekonomi serta perubahan pola makanan, terutama meningkatnya konsumsi makanan barat.
 
Apa yang Dimaksud Gangguan Pertumbuhan
Gangguan pertumbuhan pada pubertas dapat dibagi atas perawakan pendek dan perawakan tinggi. Perawakan pendek merupakan terminologi untuk tinggi badan yang berada di bawah persentil 3 atau -2 SD pada kurva pertumbuhan yang berlaku pada populasi tersebut. Sedangkan perawakan tinggi didefinisikan tinggi badan berada di atas +2 SD atau diatas persentil 97 dari kurva pertumbuhan.
Pertumbuhan normal akan menggambarkan keadaan kesehatan anak tersebut. Untuk menilai pertumbuhan anak kita harus tahu cara/metode pengukuran tinggi anak secara akurat dan memasukkan ukuran tersebut pada kurva pertumbuhan, sehingga bisa dihindari kesalahan diagnosis karena kesalahan teknik pengukuran dan dapat dinilai tinggi badan anak secara pasti.

Remaja dengan Perawakan Pendek
Perawakan pendek yang dikategorikan variasi normal adalah familial short stature (perawakan pendek familial) dan Constitusional Delay of Growth and Puberty (CDGP). Perawakan pendek familial ditandai oleh pertumbuhan yang selalu berada di bawah persentil 3, kecepatan pertumbuhan normal, tinggi badan kedua atau salah satu orang tua yang pendek, tinggi akhir di bawah persentil 3. Constitusional delay of growth and puberty ditandai oleh perlambatan pertumbuhan pada 3 tahun pertama, pertumbuhan linear normal pada masa prapubertas, maturasi seksual terlambat dan tinggi akhir biasanya normal.

Penyebab Gangguan Pertumbuhan
Gangguan pertumbuhan juga bisa disebabkan kekurangan hormon pertumbuhan. Anak dengan defisiensi hormon pertumbuhan mempunyai gambaran klinis yang bervariasi tergantung dari beratnya defisiensi yang digambarkan oleh hasil tes hormone pertumbuhan. Anak dengan pertumbuhan dibawah normal harus dicurigai mengalami kekurangan hormon pertumbuhan. Ciri-ciri kekurangan hormone pertumbuhan yaitu tinggi badan di bawah persentil3 atau -2 SD, usia tulang > 2 tahun, kadar hormone pertumbuhan < 7 ng/ml. Anak dengan variasi normal perawakan pendek biasanya tidak memerlukan pengobatan, sedangkan anak dengan kelainan patologis memerlukan terapi sesuai dengan etiologinya. Anak dengan kekurangan hormon pertumbuhan sekarang dapat diberikan terapi dengan hormon pertumbuhan. Terapi dengan menggunakan hormon pertumbuhan sintetik telah dimulai sejak tahun 1985. Tujuan pengobatan dengan hormon pertumbuhan adalah untuk memperbaiki prognosis tinggi badan dewasa. Dari berbagai penelitian, hasil tinggi akhir anak yang mendapatkan terapi hormon pertumbuhan jauh lebih baik dibandingkan prediksi tinggi badan pada awal pengobatan.

Remaja dengan Perawakan Tinggi
Anak dengan perawakan tinggi mempunyai tinggi badan diatas + 2 SD atau diatas persentil 97. Terdapat penyebab perawakan tinggi yaitu gigantisme, hipertiroid, gangguan hormone seks, gangguan hormon adrenal, kelainan genetik seperti sindrom klnefelter, sindrom marfan. Terapi untuk perawakan tinggi dilakukan pada remaja dengan prediksi tinggi akhir yang berlebihan. Terapi supresi pertumbuhan ini harus dibicarakan dengan anak dan orang tua, mengenai tinggi badan yang masih bisa ditolerir. Pengobatan yang diberikan untuk anak laki-laki menggunakan testosterone dan pada remaja putri menggunakan estrogen.

Menangani Gangguan Pertumbuhan
Walaupun penanganan masalah pertumbuhan biasanya tidak mendesak, diagnosis dan penanganan lebih dini dapat membantu anak untuk mengejar dan meningkatkan tinggi akhir mereka.
Jika kondisi medis yang mendasari diidentifikasi, terapi spesifik dapat memperbaiki pertumbuhan. Sebagai contoh, gagal tumbuh akibat hipotiroidisme biasanya diterapi dengan pil pengganti hormon tiroid.
Injeksi hormon pertumbuhan untuk anak dengan defisiensi hormon pertumbuhan, sindrom turner dan gagal ginjal kronik dapat membantu anak untuk mendekati tinggi normal mereka. Hormon pertumbuhan eksternal ini dinilai cukup aman dan efektif, walaupun terapi ini diperlukan waktu lama dan tidak semua anak memberikan respons yang baik. Selain itu, terapi hormon pertumbuhan ini pun cukup memakan biaya.
Sementara untuk anak pendek akan tetapi tidak mengalami defisiensi hormon pertumbuhan, FDA baru menyetujui pemberian hormon pertumbuhan eksternal ini jika diperkirakan anak-anak ini akan mencapai tinggi akhir yang sangat pendek (kurang dari 150 cm untuk anak perempuan dan kurang dari 163 cm untuk anak laki-laki). Batasan tinggi ini mungkin tidak berlaku untuk bangsa Indonesia yang secara genetik memang lebih pendek dari bangsa Amerika atau Eropa.

Minggu, 16 Agustus 2015

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 70 TAHUN
17  AGUSTUS 1945 - 17  AGUSTUS 2015


Senin, 10 Agustus 2015


IMUNISASI PADA REMAJA



Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak menuju dewasa. Definisi remaja menurut Kementerian Kesehatan RI adalah semua laki-laki dan perempuan yang berumur 10-19 tahun dan belum menikah. Usia sekolah dan remaja merupakan kurun waktu dimana dapat terjadi paparan lingkungan yang luas dan beraneka ragam. Pada usia remaja, anak akan memiliki banyak kegiatan yang membuatnya rentan terhadap penyakit.

Manfaat Imunisasi Pada Remaja
Imunisasi pada remaja merupakan hal yang penting dalam upaya pemeliharaan kekebalan tubuh terhadap berbagai macam penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus maupun parasit dalam kehidupan menuju dewasa. Imunisasi pada remaja ini diperlukan mengingat imunitas yang mereka peroleh sebelumnya dari pemberian imunisasi lengkap sewaktu masa bayi dan anak-anak tidak dapat bertahan seumur hidup (misalnya imunitas terhadap pertussis hanya bertahan selama 5-10 tahun setelah pemberian dosis imunisasi terakhir). Selain itu, banyak morbiditas penyakit serius yang dapat terjadi pada usia remaja.
Imunisasi merupakan salah satu tindakan yang secara aktif untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Sudah memberikan imunisasi secara lengkap saat bayi dan balita, bukan berarti saat remaja anak tidak membutuhkan imunisasi. Sebab imunisasi pada remaja diperlukan karena kekebalan yang diperoleh sebelumnya, tidak semuanya dapat bertahan seumur hidup (misalnya kekebalan terhadap penyakit                               Pertusis hanya bertahan sekitar 5-10 tahun setelah dosis imunisasi terakhir).

Imunisasi Pada Remaja
Imunisasi pada remaja umumnya berupa imunisasi ulang atau booster dari hamper semua imunisasi dasar pada umur lebih dini. Di Indonesia sendiri Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan jadwal imunisasi tahun 2014 yang direkomendasian di Indonesia. Dari jadwal imunisasi 2014 antara lain :
1.      Imunisasi Difteri, Pertusis, Tetanus (DPT)
Untuk anak umur lebih dari 7 tahun, imunisasi DPT ini diberikan sebagai dalam bentuk imunisasi Td dan di-booster setiap 10 tahun. IDAI merekomendasikan pemberian imunisasi Td ke 6 pada umur 10-12 tahun dan Td ke 7 pada umur 18 tahun. Vaksin mengandung toksoid difteri sebanyak 2 Lf dan toksoid tetanus sebanyak 7,5 Lf dalam setiap 0,5 ml vaksin. Imunisasi Td memberikan kekebalan lanjutan terhadap tetanus dan difteria, serta menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit difteria dan tetanus pada remaja. IDAI merekomendasikan 2x pe mberian pada masa remaja, yakni 1x pada umur 10-12 tahun dan 1x pada umur 18 tahun. Suntikan imunisasi diberikan dengan dosis 0,5 ml di otot lengan bahu. Walau jarang, ada beberapa efek samping yang mungkin muncul antara lain nyeri di tempat suntikan, kemerahan, bengkak, dan demam.
2.      Imunisasi Influensa
IDAI menyarankan pemberian imunisasi influenza ulang setiap tahunnya (1x/tahun). Terdapat dua jenis vaksin influenza, yakni IIV (Inactivated Influenza Vaccine) yang diberikan secara suntikan dan LAIV (Live, Attenuated Influenza Vaccine) yang berupa spray hidung. Imunisasi pertama kalinya diberikan 2x, selanjutnya dilakukan 1x setiap tahunnya sejak umur 6 bulan sampai umur 18 tahun pada semua individu tanpa memandang ada tidaknya faktor risiko. Vaksin diberikan melalui suntikan dengan dosis 0,5 ml untuk anak diatas 3 tahun atau 0,25 ml untuk bayi dibawah 3 tahun secara IM di M.Deltoideus. Efek samping yang mungkin berupa nyeri, kemerahan dan bengkak di tempat suntikan, demam dan nyeri otot, walaupun hal ini sangat jarang terjadi.
3.      Imunisasi Hepatitis A
Imunisasi Hepatitis A dapat diberikan sejak umur 2 tahun sampai umur 18 tahun, sebanyak 2x pemberian dengan interval 6-12 bulan. Lama proteksi antibodi terhadap virus Hepatitis A diperkirakan menetap selama lebih dari 20 tahun.
Proteksi jangka panjang dapat terjadi akibat antibodi protektif yang menetap atau akibat infeksi alamiah. Imunisasi diberikan melalui suntikan dengan dosis 0,5 ml secara IM. Efek samping yang mungkin muncul antara lain nyeri, kemerahan dan bengkak di tempat suntikan
4.      Imunisasi Varisela
IDAI merekomendasikan pemberian imunisasi Varisela sebanyak 1x saja.Pemberian dapat dilakukakan setelah umur 12 bulan dan terbaik pada umur sebelum masuk sekolah dasar.Bila diberikan pada umur lebih dari 12 tahun, diperlukan 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu. Vaksin mengandung virus Varisela yang dilemahkan (live-attenuated) sehingga harus diberikan dalam kondisi sehat.Serokonversi didapati pada 97% individu yang divaksinasi.Untuk remaja diberikan 2 dosis vaksin jika belum pernah diimunisasi sebelumnya dengan interval 4 minggu. Dosis yang diberikan adalah 0,5 ml dibawah kulit. Efek samping yang mungkin muncul antara lain kemerahan, demam, nyeri dan pegal di tempat suntikan
5.      Imunisasi HPV
Imunisasi HPV dapat diberikan pada laki-laki dan perempuan mulai umur 10 tahun untuk mencegah penyakit terkait infeksi HPV. Vaksin HPV berisi protein rekombinan.Imunisasi HPV mempunyai efikasi 96-100% untuk mencegah kanker leher rahim yang disebabkan oleh HPV tipe 16/18.1 Terdapat dua jenis vaksin HPV yakni yang bivalen (diberikan tiga kali dengan interval 0, 1, 6 bulan) dan tetravalent (diberikan tiga kali dengan interval 0, 2, 6 bulan). Vaksin bivalen hanya dapat diberikan pada perempuan, sedangkan vaksin tetravalent dapat diberikan pada perempuan maupun laki-laki. Imunisasi diberikan dengan dosis 0,5 ml diotot lengan bahu atas. Efek samping yang mungkin muncul antara lain pegal, urtikari, nyeri di tempat suntikan, kemerahan dan bengkak. Merk-merk yang ada di Indonesiaantara lain Cervarix® yang merupakan vaksin bivalen (tipe 16 dan 18) dan Gardasil® yang merupakan vaksin tetravalent (tipe 6, 11, 16 dan 18)

Kanker Serviks dapat Disebabkan dari Infeksi Virus HPV
Salah satu kesejahteraan perempuan yang harus disoroti adalah ketika perempuan menapaki usia produktif dimana ditandai dengan terjadinya menstruasi, hal tersebut perlu diperhatikan baik dalam segi sosial maupun dalam segi kesehatan khususnya kesehatan reproduksi. Menstruasi merupakan titik awal dimana permasalahan kesehatan reproduksi muncul, antara lain keputihan, bau tidak sedap pada vagina, hingga waktu menstruasi yang
tidak teratur.
Keputihan merupakan keluarnya cairan dari vagina selain darah haid, cairan tersebut bisa menjadi cairan yang normal dan tidak normal. Cairan lendir yang tidak norrnal tersebut merupakan salah satu tanda atau gejala adanya kelainan pada organ reproduksi wanita. Kelainan tersebut dapat berupa infeksi, polip leher rahim, keganasan (tumor dan kanker) serta adanya benda asing. Dalam hal keganasan tersebut, keputihan merupakan salah satu gejala awal dari kanker serviks.
Kanker serviks (kanker leher rahim) merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim atau serviks (bagian terendah dari rahim) yang menempel pada puncak vagina. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, di Negara berkembang saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas diantara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia yang menyerang usia produktif.
Penyebab utama kanker leher rahim adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi virus HPV dapat menyerang siapa saja, mulai dari perempuan  berusia 20 tahun sampai perempuan yang tidak lagi dalam usia produktif.
Angka kejadian kanker leher rahim menduduki urutan ke-2 diantara kanker pada perempuan setelah kanker payudara. Setiap tahun diperkirakan ada 500.000 perempuan ditemukan menderita kanker leher rahim dan 50% akan meninggal. Di tingkat dunia diperkirakan setiap dua menit ada seorang perempuan meninggal. Di Indonesia berdasar data patologi kanker leher rahim menempati urutan pertama dari  kanker-kanker yang terdapat baik pada perempuan, maupun gabungan perempuan dan laki-laki. Diperkirakan setiap jam atau dua jam ada seorang perempuan meninggal akibat kanker. Diperkirakan di Jakarta satu orang perempuan meninggal akibat kanker serviks setiap satu atau dua hari.

Faktor Resiko
·         Infeksi HPV berkaitan dengan 95% dari terjadinya kanker serviks
·         Perempuan yang merokok mempunyai resiko dua kali lebih tinggi untuk menderita kanker serviks dari pada perempuan yang tidak merokok
·         Perempuan dengan mitra seksual multiple
·         Tingkat sosial ekonomi rendah mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita kanker serviks lebih tinggi untuk menderita kanker serviks daripada tingkat sosial ekonomi menengah atau tinggi

Mencegah Munculnya Kanker Serviks
Selain pap smear, langkah mencegah munculnya k anker serviks pada para wanita adalah dengan vaksinasi. Kini upaya untuk memerangi permasalahan kanker serviks semakin terbantu dengan hadirnya vaksin Human Papiloma Virus (HPV) yang dikenalkan ketengah masyarakat.
Perjalanan penyakit infeksi HPV hingga timbulnya kanker serviks invasive memerlukan waktu yang sangat panjang, dapat berlangsung 3 sampai 17 tahun kemudian, dan keadaan ini sebenarnya memberi tantangan untuk melakukan deteksi dini dengan berbagai metode yang telah dikenal populer.
Vaksin ini bersifat pencegahan, bukan untuk pengobatan. Bila semua wanita dapat divaksinasi, maka ada potensi bahwa jumlah kematian akibat kanker serviks diseluruh dunia dapat turun sebanyak dua pertiganya. Karena vaksin dapat mencegah kanker serviks, maka vaksinasi dapat mengurangi biaya untuk kesehatan, biposi, dan tindakan jika seseorang terkena kanker serviks. Jadi pada dasarnya vaksin HPV ini bermanfaat. Vaksin HPV terbukti efektif hanya jika diberikan pada orang yang belum pernah terkena infeksi HPV, karena itu dianjurkan pada saat seseorang belum aktif secara seksual.
Selain itu, pada saat vaksinisasi juga dilakukan skrining dan papsmeer yang merupakan prosedur normal saat pemberian vaksinisasi. Sehingga bisa mendeteksi atau mengetahui keadaan dan kelainan-kelainan yang mungkin ada pada tubuh sejak dini. Ini juga merupakan salah satu keuntungan yang bisa menjadi alasan kenapa harus melakukan vaksin HPV.

Penulis : dr.Fara Vitantri DC , SpOG (K)

Kamis, 06 Agustus 2015


KENALI HEPATITIS B
APA ITU HEPATITIS ?
Hepatitis adalah proses peradangan pada hati.Hepatitis dapat disebabkan oleh infeksi,obat-obatan,toksin,gangguan metabolic maupun kelainan autoimun.penyebab utama hepatitis adalah infeksi virus.

APA ITU HEPATITIS  VIRUS ?
Virus hepatitis hanya menginfeksi hati,tidak pernah keorgan lain
Dengan  kemajuan dibidang biologi-molekuler telah dapat diidentifikasi sedikitnya 6 virus penyebab utama hepatitis,yaitu A,B,C,D,E dan G.
Anak yang menderita hepatitis A tidak akan berubah menjadi hepatitis B,C,D dan selanjutnya,karena masing-masing virus sangat berbeda dan tidak dapat berubah menjadi virus lain.

APA ITU HEPATITIS B
HEPATITIS B adalah peradangan pada hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B.
Hepatitis B paling ditakutkan karena dapat menjadi kronik.Hepatitis virus B kronik merupakan infeksi virus hepatitis B yang menetap  paling sedikit selama 6 bulan.
Penderita hepatitis B kronik merupakan sumber penularan utam.Resiko menjadi kronik sangat tinggi (90 %) bila infeksi tersenut didapat saat bayi.
Penularan pada bayi didapat dari ibu pembawa hepatitis B kronik,yang disebut sebagai transmisi vertical.Transmisi vertical dapat terjadi saat intrauterine,intrapartum atau setelah lahir tetapi sebagian besar transmisi vertical tersebut terjadi intrapartum.

APA GEJALA HEPATITIS B KRONIK ?
70% anak  yang terinfeksi hepatitis B akut tidak ada gejala.
Anak dapat terjangkit tetapi kita tidak mengetahuinya.
Hepatitis B kronik pada anak umumnya tidak menimbulkan gejala,kadang hanya timbul mual atau lesu.

SIAPA YANG BERESIKO TERKENA HEPATITIS B ?
  •  Transfusi
  • Cuci darah
  • Tertusuk jarum suntik
  • Petugas medis
  •  Petugas laboratorium
  • Alat cukur bersama
  • Akupuntur
  • Tindik
  • Narkoba suntik
  • Pemadam kebakaran
  • Pasangan penderita hepatitis B
  •  Tato
BAGAIMANA MENCEGAH HEPATITIS B ?
Ø  Uji tapis donor darah terhadap virus hepatitis B
Ø  Sterilisasi alat operasi,alat suntik,peralatan gigi
Ø  Penggunaan sarung tangan oleh tenaga medis
Ø  Mencegah kemungkinan terjadinya luka kecil yang dapat menjadi tempat masuknya virus,seperti pemakaian sikat gigi,sisir,alat pencukur pribadi.

 CARA TERBAIK MENCEGAH HEPATITIS B
 ·         Memotong transmisi vertical
 ·         Memberikan vaksinasi hepatitis B pada semua bayi
 ·         3 kali seumur hidup
 ·         Dosis pertama diberikan sebelum usia 12 jam
 ·         Kedua pada usia 1 bulan,dosis ketiga pada usia 6 bulan.